Makan Malam Bersama Mr. Pirzada, Jhumpa Lahiri

Lilia adalah seorang anak dari keluarga India yang tinggal di Amerika Serikat. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang pernah tinggal di India, Lilia lahir dan besar Amerika.

Pada musim gugur tahun 1971, bermula dari undangan orang tua Lilia, seorang lelaki asal Dhaka rutin mengunjungi rumah mereka. Lelaki itu bernama Mr. Pirzada. Bila berkunjung, ia kerap membawakan manisan buat Lilia.

Lilia tidak dapat mengingat kapan persisnya Mr. Pirzada berkunjung ke rumah mereka untuk pertama kali ke rumah mereka. Namun, Lilia sudah terbiasa dengan kehadirannya. Lilia sering menanggapi Mr. Pirzada seadanya,  dengan sedikit malu-malu. Suatu hari, ketika Mr. Pirzada tidak berkunjung, Lilia tidak sengaja menyebutnya “orang India”. Namun, ayah Lilia menegaskan bahwa Mr. Pirzada berbeda dengan mereka.

Sungguh tak masuk akal buatku. Mr. Pirzada dan kedua orangtuaku berbicara dalam bahasa yang sama, menertawai lelucon yang sama, dan memiliki ciri penampilan yang kurang-lebih sama juga. Mereka selalu senang bersantap ditemani asinan mangga, dan setiap malam mereka terbiasa makan dengan tangan, bukan sendok atau garpu. Selain itu, sama seperti kedua orangtuaku, Mr. Pirzada juga terbiasa membuka sepatu sebelum memasuki ruangan, mengunyah biji adas selepas makan malam guna membantu proses pencernaan, tidak minum alkohol, dan sebagai menu makan penutup mencelupkan biskuit keras ke dalam bercangkir-cangkir teh hangat. Meski begitu, Ayah tetap memaksa agar aku mengerti perbedaan antara mereka dan Mr. Pirzada — seraya membimbingku ke arah selembar peta yang terentang di atas sebidang dinding di dekat meja kerjanya.

Bagiku, Lahiri menunjukkan pemahaman atas sejarah suatu bangsa sebagai salah satu unsur penting bagi seseorang dalam memproyeksikan dirinya. Pemahaman itu juga mempengaruhi bagiamana seseorang menempatkan diri maupun orang lain dalam kelompok tertentu.

Dalam satu adegan, setelah salah menyebut Mr. Pirzada sebagai “orang India”, ayahnya memprotes ketidaktahuan Lilia soal kejadian masa lampau yang menegaskan perbedaan antara keluarga mereka dengan Mr. Pirzada. Hingga saat itu, pemahaman soal “orang India” dipahami Lilia dengan mengamati orang tuanya. Ketika Lilia melihat Mr. Pirzada memiliki kemiripan dengan orang tuanya, yang ia anggap sebagai ciri orang India, maka Lilia menyimpulkan Mr. Pizarda juga orang India.

Si ayah mengoreksi pandangan Lilia. Ayah menegaskan sejak pemisahan India pada tahun 1947 dan Pakistan berdiri di tahun yang sama, meskipun ada kemiripan antara keluarga mereka dan Mr. Pirzada, Mr. Pirzada adalah orang Pakistan. Secara tidak langsung ayah memberi pengertian kepada Lilia bahwa meskipun memiliki ciri fisik yang sama, berbicara dengan bahasa yang sama, memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sama dan sebagainya, namun karena sebuah peristiwa historis, Mr. Pirzada tidak berada dalam kelompok yang lain.

Pada adegan yang sama, ibu Lilia justru memaklumi ketidaktahuan Lilia. Ibu Lilia menjelaskan bahwa Lilia lahir dan besar di Amerika, tenggelam dalam kehidupan di Amerika. Bagi si ibu, yang terpenting adalah kehidupan anaknya yang lebih baik ketimbang jika ia tinggal di India.

Kami belajar tentang sejarah Amerika, tentunya, dan tentang geografi benua Amerika. Tahun itu, dan nampaknya tiap tahun setelah itu, kami mulai mempelajari Perang Revolusi… Saat ujian, kami diberikan peta buta ketiga belas daerah koloni di Amerika Utara dan diminta untuk menamainya satu per satu, beserta tanggal dan ibukota. Aku bisa melakukan semua ini dengan mata tertutup.

Lilia sendiri menunjukkan bahwa ia menempatkan diri dalam kelompok yang berbeda dengan orang tuanya. Selain akrab dengan sejarah Amerika, Lilia lebih akrab dengan kebiasaan-kebiasaan setempat; pada perayaan Halloween, ia menjelaskan soal jack-o-lantern kepada Mr. Pizarda, dan mengajaknya membuatnya. Lilia juga menikmati bedandan dan berkeliling kompleks bersama temannya untuk trick-or-treat. Lilia bukan “orang India” seperti dalam pikiran ayahnya. Lilia adalah “seorang Amerika” yang sedang berusaha memahami latar belakang keluarganya.

Namun, terlepas dari pembedaan-pembedaan itu, ketika situasi antara India dan Pakistan kian hari semakin tegang, hingga akhirnya perang meletus, mereka tetap bersatu. Mr. Pirzada tetap berkunjung. Bahkan lelaki itu sempat menginap di rumah mereka. Orang tua Lilia sibuk menelepon keluarga dan teman-teman mereka di Kolata. Sementara Mr. Pirzada mengkhawatirkan istri dan ketujuh putrinya yang hilang kabar. Lilia sendiri kerap merasa sedih memikirkan situasi yang dihadapi Mr. Pirzada. Ia ikut khawatir mengenai keadaan keluarga Mr. Pirzada, dan kerap kebingungan bagaimana caranya menenangkan lelaki itu. Dalam “menghadapi” perang, mereka sama-sama menderita.

 

#CATATAN

*Cerpen ini berjudul “When Mr. Pirzada Came to Dine” karya Jhumpa Lahiri dan dimuat dalam kumpulan cerpennya, “Interpreter of Maladies” terbitan Houghton Mifflin pada tahun 1999.

**Jhumpa Lahiri adalah penulis cerpen, novel, dan esai berkebangsaan Amerika-India. Ia telah memenangkan sejumlah penghargaan, di antaranya adalah O’Henry Award (1999), Pulitzer Prize for Fiction (2000) dan The New Yorker’s Best Debut of The Year (2000).

***”When Mr. Pirzada Came to Dine” diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Maggie Tiojakin dan dimuat di situs web Fiksi Lotus.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s